Kali ini gue mau nulis bukan tentang hal absurd tapi gue mau nulis tentang hal yang mengoyak naluri gue..
sesuai judulnya gue akan ngebahas tentang seseorang yang terbuang. Bukan di buang melainkan sesorang tersebut terbuang dan dianggap sampah.
ada banyak macam orang yang terbuang. ada anak jalanan, ada pengemis, gelandangan dan wanita penghibur..
ya, gue mau ngebahas tentang wanita penghibur atau dengan sebutan kupu-kupu malam. gue tahu udah banyak banget artikel atau orang yang udah ngebahas permasalahan ini tetapi gue tetap mau nulis ini hanya ingin memuaskan batin gue aja yang terkadang miris dan sedih ketika kita tahu latar belakang hidup mereka yang sesungguhnya.
karena gue orangnya sangat penasaran dengan hal-hal yang aneh dan sangat ingin tahu tentang kehidupan malam mereka yang kejam akhirnya sekitar awal tahun 2012 gue memberanikan diri untuk ke Sarkem salah satu tempat prostitusi terbesar di Jogja, eiiit.. gue kesana enggak ngapa-ngapain cuma muasin rasa penasaran gue bukan muasin yang itu :p
foto dari google..
Akhirnya gue meluncur kesana, saat mau masuk ke gerbang gang, jujur gue takut banget karena gue enggak pernah sama sekali ketempat yang kayak begituann...
lima belas menitan berdiri gue mutusin buat masuk ke dalam. suasana sangat mencekam diantara remangnya lampu diantara rumah yang berderet bahkan menempel satu sama lain gue ngeliat puluhan cewek duduk berjajar di depan rumah yang sekaligus tempat mereka mencari nafkah..
beberapa cewek merayu gue dengan gaya centil mereka namun gue terus jalan tidak menghiraukan bisikan nakal dari mereka yang berharap gue bisa memberi mereka beberapa rupiah..
lama berjalan gue duduk di sebuah warung kecil berpura-pura membeli minum. gue di layani seorang perempuan berusia sekitar 18 tahunan.
"Mas, enggak masuk ke dalam aja?" rayunya.
"Oh, enggak Mbak makasih" tolak gue yang panik. dia terus membujuk gue kayaknya dia belum dapat pelanggan. lalu dia minta rokok di gue, kesempatan itula yang gue pakai untuk bertanya tentang hal yang selama ini mengusik naluri keinginan tahuan gue.
"Udah lama kerja kayak gini Mbak?"
"Sekitar tiga tahun"
"Oh, emang asli mana Mbak"
"Asli Jawa, kok"
"Maaf Mbak dalam sehari bisa melayani berapa orang" tanya gue yang spontan, tanpa ada rasa takut dia menjawab peranyaan gue ngalir aja.
"Dua sampai tiga"
"Oh, emang bisa Mbak?"
"Bisa lah, namanya kita cari uang yang saya cari bukan kenikmatan Mas tapi uang"
Kita Hening.
"Kenapa bisa sampai kerja kayak gini Mbak?" lanjut gue yang semakin penasaran.
"Karena nggk ada lagi pekerjaan yang bisa ngasih uang banyak untuk membiayai anak saya yang sekolah, makan dan ngebiayai hidup yang semakin mahal. saya dari kecil ditinggal kedua orang tua Mas. saya hanya sebatang kara" katanya pelan.
Tak lama kemudia dia pamit ke gue karena ada seseorang tamu yang membawanya masuk ke dalam. guepun langsung bangkit untuk pulang dengan membawa rasa sedikit dahaga karena rasa penasaran gue sedikit berkurang. Walaupun masa banyak yang mau gue tanya. tapi yasudahla gue bisa ngambil benang merahnya aja semua orang yang kerja kayak gini mereka punya alasan sendiri kenapa mereka bisa seperti ini.
Gue bisa ngambil kesimpulan.
Mereka seperti itu karena ada alasan, alasan yang memaksa mereka untuk melakukan itu, melakukan hal yang mestinya tidak mereka lakukan. mereka lakukan karena itu adalah pilihan terakhir menurut mereka. pilihan adalah hak sesorang asalkan mereka bisa bertanggung jawab. bertanggung jawab akan resiko. terlebih mereka bertanggung jawab atas nyawanya, atas nyawa orang terdekatnya yang membutuhkan beberapa lembar uang kertas untuk menyambung hidup.
Gue sendiri dari dulu enggak pernah menghakimi mereka, gue berpikir dari segi yang lain mereka seperti itu karena mereka punya alasan. Bukan bearti itu pekerjaan yang baik bahkan sangat hina di mata orang tetapi hati kecil mereka tidak ingin hidup seperti itu.
Dan terciptalah Puisi ini untuk mereka yang terbuang..
DI REMUK KESUNYIAN MALAM...
Di antara remang lampu, berteman debu dan berwajah topeng..
Kami duduk sejajar menawar senym, memberi rayu....
Dinginnya malam mencekam meremuk tubuh kami yang berbalut beberapa benang.
Tawa itu hanya hiasan semata agar kami bisa mendapatkan kertas yang bisa menyambung kami..
Gelak tangis sudah menjadi saudara kami, kepedihan, sudah menempel dalam hati.
Doa, mungkin tak di dengar.. tapi kami tetap meminta agar ia memaklumi kami...
kami hanya orang yang terbuang dari sekumpulan sampah yang paling kotor.
Kami seseorang yang terbuang dari kerasnya arus hidup yang merapuhkan kami...
Biarkan, biarkan kami menjadi orang yang terbuang.... asal kami bisa menyambung nyawa...

No comments:
Post a Comment